Tragedi Hari Tua: Mengapa Proyek Fisik Tanpa Aset Berkelanjutan Adalah Bom Waktu Kemiskinan di Sariglagah?
Sariglagah, Batang – Baru saja kita menyaksikan Musyawarah Penyempurnaan Hasil Evaluasi Rancangan Perdes APBDes 2026 yang berlangsung sangat formal di balai desa. Namun, di balik angka-angka yang terpampang di layar proyektor tersebut, tersimpan pertanyaan krusial bagi masa depan kita semua: Apakah kita sedang membangun aset, atau sekadar menghabiskan anggaran?
![]() |
| Musyawarah Penyempurnaan Hasil Evaluasi Rancangan Perdes APBDes 2026 Desa SarigLagah |
1. Cermin Masa Tua di Depan Mata
Coba tengok kanan-kiri kita. Lihatlah para lansia di desa kita saat ini. Banyak dari mereka yang di masa muda banting tulang menukarkan waktu dan tenaga demi uang, namun kini di hari tua mereka terabaikan, lemas tak berdaya tanpa pemasukan. Inilah tragedi nyata yang akan menimpa kita jika kita terus mempertahankan pola pikir "bekerja hanya untuk hari ini" tanpa memikirkan keberlanjutan.
2. Jebakan "Zona Nyaman" Proyek Fisik
Saat ini, banyak warga merasa bangga menjadi tukang bangunan atau mandor proyek aspal desa. Mereka merasa nyaman karena masih bisa menukarkan tenaga dan waktunya dengan rupiah. Namun, ingatlah:
Proyek Fisik Selesai = Penghasilan Tamat: Begitu aspal kering dan gedung berdiri, pekerjaan selesai, dan uang pun habis untuk konsumsi sesaat.
Kehilangan Peluang Emas: Jika bantuan pusat hanya dialokasikan untuk kegiatan fisik tanpa unit usaha yang menghasilkan passive income, kita sebenarnya sedang mewariskan kelelahan bagi anak cucu kita.
Agar kita memiliki gambaran yang lebih jernih, mari kita bandingkan perbedaan mendasar antara keterjebakan kita pada proyek fisik saat ini dengan potensi aset digital yang sedang kita perjuangkan melalui unit usaha Wi-Fi desa:
3. Refleksi Kursi Musyawarah: Seandainya Ada Konflik Kepentingan
Melihat suasana musyawarah yang begitu formal, kita patut merenung sejenak mengenai integritas administrasi kita ke depan. Seandainya di dalam struktur operasional KDMP nantinya masih diisi oleh wajah-wajah yang sama dengan pemegang kebijakan di desa—seperti anggota BPD atau perangkat desa—maka kita sedang berjalan di atas titian yang sangat tipis.
![]() |
| Suasana Musyawarah Desa SarigLagah |
Apabila terjadi rangkap jabatan seperti itu, maka kita harus siap menghadapi risiko terbesar:
Penolakan Sistem Digital: Verifikasi NIK secara nasional akan mendeteksi adanya konflik kepentingan, yang bisa berujung pada penolakan aplikasi bantuan kita secara otomatis.
Ancaman Audit BPKP: Seandainya administrasi kita tidak steril, dana ratusan juta untuk proyek Wi-Fi Desa terancam hangus atau menjadi temuan audit yang merugikan nama baik desa.
Keadilan Ekonomi: Apabila jabatan hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja, maka semangat "Kemandirian Ekonomi" yang kita cita-citakan akan sulit tercapai karena kurangnya regenerasi dan profesionalisme.
Mari kita jadikan momen APBDes 2026 ini untuk memastikan bahwa tidak ada keserakahan jabatan yang mengorbankan akses internet dan masa depan seluruh warga Sariglagah.
4. Wi-Fi Desa: Aset yang Tidak Mengenal Pensiun
Beda halnya jika kita berani mengalokasikan anggaran untuk membangun aset digital seperti Wi-Fi Mandiri dengan pengurus yang bersih dan kompeten.
Bagi Hasil Abadi: Meskipun raga kita nanti sudah tidak kuat mencangkul atau mengaduk semen, usaha Wi-Fi yang kita bangun sekarang akan terus memberikan bagi hasil/imbal hasil setiap bulannya.
Kemandirian Ekonomi: Inilah cara kita menghargai masa tua kita sendiri. Menyiapkan sumber penghasilan yang tetap mengalir meskipun kita sudah tidak bekerja secara fisik.
Penutup
Senyum sinis mereka yang merasa "sudah berdaya" karena proyek sesaat dan merasa aman dengan rangkap jabatannya saat ini adalah bom waktu. Mari kita kawal APBDes 2026 ini agar tidak hanya berisi tumpukan semen dan aspal, tapi juga fondasi aset digital yang bebas dari konflik kepentingan demi kesejahteraan kita di hari tua.
Besok ya pikirkan besok? Tidak! Masa tua harus kita selamatkan dari sekarang dengan aturan yang benar!


Komentar
Posting Komentar