Postingan

Menampilkan postingan dengan label Literasi Universal

Menjawab Serangan dengan Solusi: Mengapa Suara Kritis Adalah Modal Terbesar Desa

  Sariglagah, 9 Januari 2026 – Belakangan ini, banyak yang bertanya-tanya: "Pantaskah seorang warga yang belum masuk dalam struktur organisasi berbicara sevokal itu?" Ada pula yang menganggap kritik terhadap kepasifan pengelola lembaga desa sebagai "serangan pribadi" atau "membuka aib". Mari kita luruskan dengan kepala dingin. 1. Kritik sebagai Instrumen Pembangunan Dalam sebuah negara demokrasi, warga adalah Subjek Pembangunan . Jika sebuah organisasi yang membawa nama "Desa" tampak pasif atau diam terlalu lama, maka warga memiliki kewajiban moral untuk mengetuk pintunya. Mengapa? Karena diamnya pengelola seringkali menjadi awal dari stagnasi ekonomi warga. Kritik saya bukanlah serangan personal, melainkan upaya untuk membangun standar akuntabilitas yang lebih tinggi. 2. Membedah Kebuntuan: Solusi adalah Jawaban Terbaik Ada yang beralasan: "Kami pasif karena tidak ada modal." Namun, apakah benar modal itu tidak ada, atau kita yang bel...