Masalah Desa Bukan Kurang Tenaga, Tapi Salah Menggunakan "Senjata": Mengapa Anak Muda Harus Diberi Peran?

 Salam Masinis Peradaban,

Pernahkah Anda memperhatikan mengapa banyak anak muda cerdas dari desa kita lebih memilih merantau ke kota daripada membangun tanah kelahirannya? Jawabannya seringkali menyakitkan: karena di desa, mereka merasa tidak diberi peran dan terus-menerus disalahpahami.

Ada sebuah fenomena yang saya sebut sebagai "Lingkaran Setan Senioritas". Di mana pengelolaan desa seolah menjadi hak eksklusif mereka yang sudah sepuh dengan alasan "pengalaman". Akibatnya, yang mengurus desa hanya orang itu-itu saja, sementara inovasi baru dianggap angin lalu.

Mitos "Kerja Harus Berdarah-darah"

Masalah besar muncul ketika standar bekerja hanya diukur dari cucuran keringat dan kelelahan fisik. Orang tua sering menganggap anak muda yang duduk tenang di depan monitor sebagai orang malas yang tidak mau susah payah.

Padahal, di era digital ini, kerja otot sudah harus mulai berdampingan dengan kerja otak. Kita tidak bisa lagi memaksakan semua urusan diselesaikan dengan tenaga fisik, sementara dunia luar sudah bergerak dengan kecerdasan sistem.

Analogi Senapan dan Bambu Runcing

Mari kita bicara jujur. Pemerintah Pusat sebenarnya sudah membekali kita dengan "Senapan" canggih berupa Dana Desa yang besar dan payung hukum seperti Permendes 16/2025.

Namun, apa yang terjadi di lapangan? Karena pengelolanya tidak paham cara menggunakan teknologi (senapan tersebut), mereka justru mematahkan senapan itu dan menjadikannya "Mata Tombak" untuk bertarung secara tradisional. Hasilnya? Kita tetap tertinggal, padahal kita memegang alat yang seharusnya bisa menyelesaikan masalah ekonomi desa hanya dengan "sekali tekan platuk".

KDMP: Jembatan Peran untuk Anak Muda

Melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), kita ingin mengembalikan fungsi "Senapan" digital tersebut. Upaya saya membangun infrastruktur Wi-Fi Mandiri Desa adalah langkah nyata agar anak muda diberi peran strategis:

Bukan Malas, Tapi Efisien: Mengelola jaringan internet memang tidak mandi keringat, tapi dampaknya bisa membawa omzet miliaran rupiah bagi desa.

Saatnya Kerja Cerdas

Instruksi Pusat: Membangun desa dengan teknologi adalah mandat negara agar pemuda kompeten tidak perlu lagi "langkah jauh" mencari makan di tanah perantauan.

Sudah saatnya kita berhenti mengukur perjuangan hanya dari bambu runcing yang kita pegang. Saatnya kita belajar menggunakan senapan yang ada di tangan. Kemandirian desa tidak akan tercapai selama kita masih takut memberikan "platuk" teknologi kepada anak muda yang memahaminya.

Komentar